Selasa, 29 Mei 2012

proses terjadinya sperma

  • Proses Spermatogenesis
Proses spermatogenesis terjadi didalam tubula seminiferus testis. Proses ini dimulai dari proses diferensiasi sel-sel germinal primordial menjadi spermatogonium. Spermatogonium ini mempunyai jumlah kromososm diploid (2n). Spermatogonia ini menempati membran basah atau bagian terluar dari tubulus seminiferus. Spermatogonia ini akn mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatogonia akan bermitosis berkali-kali mebentuk spermatosit primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder (Anonim, 2009 (a)).
(Barlian dkk, 2009)
Proses pembentukan spermatosit sekunder, dimulai saat spermatosit primer menjauhi dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak, dan terjadilah meiosis pertama membentuk dua spermatosit sekunder yang masing-masing memiliki kromososm haploid (1n). Proses meiosis pertama ini langsung diikuti dengan pembelahan meiosis kedua yang membentuk empat spermatid masing-masing dengan kromosom haploid. Akhirnya spermatid akan bertranformasi membentuk spermatozoa. Proses spermatogenesis ini terjadim pada suhu normal tetapi lebih rendah dari pada suhu tubuh, dan proses ini juga dipengaruhi oleh sel sertoli (Isnaeni, 2006).
Jadi jika dilihat dari tahapannya, proses spermatogenesis dibagi menjadi tiga tahapan :
  1. Tahapan Spermatocytogenesis
Yaitu tahapan dimana spermatogonia bermitosis menjadi spermatid primer, proses ini dipengarui oleh sel sertoli, dimana sel sertoli yang meberi nutrisi-nutrisi kepada spermatogonia, sehingga dapat berkembang menjadi spermatosit.
  1. Tahapan Meiosis
Merupakan tahapan spermatosit primer bermiosis I membentuk spermatosis sekunder dan langsung terjadi meiosis II yaitu pembentukan spermatid, dari spermatosit sekunder. Proses ini terjadi saat spermatosit primer menjauhi lamina basalis, dan sitoplasma semakin banyak.
  1. Tahapan Spermiogenesis
Merupakan tahapan terakhir pembentukan spermatozoa, dimana terjadi transformasi dari spermatid menjadi spermatozoa. Tahapan ini terdiri dari empat fase : yaitu fase golgi, fase tutup. fase akrosom, dan fase pematangan (Anonim, 2009 (b)).
(Barlian, dkk, 2009)
Setelah terbentuk spermatozoa, Sperma ini terdiri dari tiga bagian yaitu kepala sperma, leher sperma, dan ekor sperma.
A. Kepala sperma,  pada kepala sperma terdapat akrosoma yang terbentuk dari badan golgi dan mengandung enzim hialuronidase yang berfungsi untuk melisiskan bentuk telur. Pada bagian ini juga terdapat inti sperma yang menyimpan sejumlah kode/informasi genetik yang akan diwariskan kepada keturunannya.
B. Leher Sperma, pada bagian ini banyak mengandung mitokondria, sehingga tempat ini merupakan tempat oksidasi sel untuk membentuk energi, sehingga sperma dapat bergerak aktif.
C. Ekor Sperma, bagian ini merupakan alat gerak sperma menuju ovum (Syamsuri, 2003).
  • Hormon Reproduksi pada hewan jantan, fungsi dan letak.
  1. Testosteron : Merupakan hormone yang terletak dan dihasilakn oleh testis tepatnya hormone ini dikeluarkan oleh sel leydig). Hormone ini penting untuk pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi serta cirri seks sekunder pada hewan jantan dan hormone ini terutam bertanggung jawab pada pembentukan spermatosit sekunder. Pelepasan hormone ini dikendalikan oleh hormone LH (Luteinizing Hormone) (Isnaeni, 2006).
  2. GnRH : Hormon ini dihasilkan oleh hipotalamus, yang berfungsi untuk merangsang hipofisis atau pituitary bagian anterior untuk mengeluarkan FSH dan LH.
  3. LH (Luteinizing Hormone) : Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis bagian anterior. Hormon ini berfungsi untuk merangsang sel-sel leydig agar mensekresikan hormone testosterone (Syamsuri, 2003).
  4. FSH (Follicle Stimulating Hormone) : Hormon ini juga disekresikan oleh kelenjar hipofisis bagian anterior, dan berfungsi untuk mempengaruhi dan merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk menghasikan ABP (Androgen Binding Protein/protein pengikat androgen) yang berfungsi untuk mengikat estrogen dan testosterone dan membawa kedua hormone tersebut ke dalam cairan tubulus seminiferus,  jadi ABP juga berfungsi memacu pembentukan sperma. FSH pada khusunya berfungsi pada pembentukan spermatid menjadi spermatozoa.
  5. Estrogen : Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel sertoli, hormone ini berfungsi untuk pematangan sperma ( Anonim, 2009 (a)).

Sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melalui sebuah proses rumit yang disebut dengan spermatogenesis. Dibentuk di dalam tubulus seminiferus. Dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :
a. Hormon GnRH
Hormon ini berfungsi untuk merangsang lobus hipofisa anterior untuk produksi hormon gonadotropin, FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone)
b. Testosterone
Hormon ini berfungsi untuk membentuk sperma, terutama pembentukan spermatosit sekunder
c. Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Hormon ini berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung. Serta merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis
d. Hormon LH (Luteinizing Hormone)
Hormon ini berfungsi merangsang sel Leydig untuk memperoleh sekresi testosteron (yaitu suatu hormon kelamin yang penting untuk perkembangan sperma).
Secara sederhana proses memproduksi sperma dapat diuraikan melalui langkah-langkah sebagai berikut ini:
1. Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai 14 tahun, sel induk sperma (spermatogonium) menjadi diaktifkan oleh sekresi hormon testosteron.
2. Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis beberapa kali untuk menghasilkan lebih banyak spermatogonium yang masing-masing berisi 46 kromosom (diploid (2n)) lengkap.
3. Masing-masing spermatongonium terus melakukan pembelahan mitosis untuk menghasilkan sel anak, sedangkan sebagian lagi membesar menjadi spermatosit primer dan bergerak ke dalam lumen tubulus seminiferus. Oleh karena pembelahan terjadi secara mitosis maka spermatogonium dan spermatosit primer mempunyai 2n kromosom (diploid).
4. Spermatosit primer melakukan meiosis (tahap I) untuk menghasilkan dua spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit primer, oleh karena membelah secara meiosis maka spermatosit sekunder mempunyai 23 kromosom (haploid (n)). Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23 kromosom yang terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom kelamin (Y atau X).
5. Kedua spermatosit sekunder tersebut melakukan miosis (tahap II) untuk menghasilkan dua sel lagi yang juga haploid, hasil pembelahan ini disebut spermatid yang tetap memiliki 23 kromosom, dan diperoleh empat spermatid.
6. Spermatid kemudian akan mengalami perubahan bentuk (deferensiasi) menjadi spermatozoa matang tanpa mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n) 23 kromosom. Perubahan bentuk ini dinamakan spermiogenesis. Keseluruhan proses spermatogenesis ini berlangsung sekitar 64 hari.
Uraian diatas dapat digambarkan dalam gambar di bawah ini!
Gambar 3. Proses Spermatogenesis
(iceteazegeg.wordpress.com)
Ø Setelah terbentuk sel sperma dapatkah kalian menyebutkan dan menjelaskan struktur dari spermatozoon (tunggal)?
Sruktur spermatozoon
Spermatozoon memiliki struktur khusus, antara lain adalah sebagai berikut:
Gambar 4. Stuktur Spermatozoon
Bagian-bagian tersebut terbagi atas 3 bagian utama, yaitu:
1) Bagian Kepala
Pada bagian kepala spermatozoon ini, terdapat inti tebal dengan sedikit sitoplasma yang diselubungi oleh selubung tebal dan terdapat 23 kromosom dari sel ayah. Selubung tebal yang dimaksud adalah akrosom, fungsi dari akrosom adalah sebagai pelindung dan menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus sel telur.
2) Bagian Badan
Terdapat mitokondria yang berbentuk spiral dan berukuran besar, berfungsi sebagai penyedia ATP atau energi untuk pergerakan ekor.
3) Bagian ekor
Pada bagian ekor sperma yang cukup panjang terdapat axial filament pada bagian dalam, dan membran plasma dibagian luar yang berfungsi untuk pergerakan sperma

DAFTAR PUSTAKA
http://gametorief.blogspot.com/2009/10/spermatogenesis.html
 http://imamabror.wordpress.com/2010/04/03/proses-spermatogenesis-hormon-reproduksi-jantan-descendens-testiculorum-dan-chritochisdismus/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar